“Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya adalah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmat-Nya dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya dan (juga) supaya kamu dapat mencari karunia-Nya; mudah-mudahn kamu bersyukur.” (QS ar-Ruum [30]: 46)
Angin yaitu udara yang bergerak yang diakibatkan oleh rotasi bumi dan juga karena adanya perbedaan tekanan udara(tekanan tinggi ke tekanan rendah) di sekitarnya. Angin merupakan udara yang bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan rendah atau dari suhu udara yang rendah ke suhu udara yang tinggi.
Angin di tangan seniman menjadi sarana berkecamuknya ide-ide. Angin bagi sang perindu adalah wasilah untuk menyampaikan kabar. Tak ada, tapi nyatanya bisa merontokkan daun. Bahkan menumbangkan pohon. Bila semua jalan tertutup, maka angin menyampaikan rindu kita. Angin berbisik pada kata, memberi kabar menepis rindu. Siapa bisa menghalangi angin. Seperti angin yang kasat mata, seorang Muslim meski telah tiada, kehadirannya tetap menjadi kenangan.
Angin terbang bebas, bisa pergi ke belahan dunia manapun yang ingin dituju. Dakwah seorang Muslim hendaklah sampai ke mana ada angin itu bertiup. Seperti angin, Kita harus mengunjungi dan menjadi rahmat di belahan manapun dunia ini. Dan memberi kesejukan dalam setiap kehadirannya.
Satu perahu berlayar ke timur dan satu lagi ke barat, padahal digerakkan oleh angin yang sama. Jadi, bentangan layarlah, dan bukan arah angin yg menentukan ke mana arah kita.
Seperti angin laut itulah alur nasib kita. Ketika kita mengarungi kehidupan, bentangan jiwa kitalah yg menentukan tujuannya, dan bukan ketenangan atau ombaknya.
Angin itu terkadang menjadi hukuman dan siksaan, di samping terkadang menjadi nikmat dan rahmat. Itu semua terjadi dengan perintah Allah. Dalam sebuah hadits yang sahih Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mencaci maki angin dengan alasan bahwa angin itu sekadar makhluk yang diatur dan diperintah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian mencaci angin karena angin itu diperintah”.
Di antaranya adalah kisah yang Allah ceritakan dalam al-Qur’an tentang hukuman yang Allah berikan kepada kaum ‘Aad yang merupakan kaum Nabi Hud. Allah hancurkan mereka dengan angin.
Seorang Muslim ibarat angin senantiasa bergerak. Seperti angin, tak pernah diam. Seperti itulah harakah.
Kadang dalam ibadah kita merasa terganggu, karena mau buang angin. Jangan sembarangan dengan angin, operasi di perut atau berlanjut ke bagian anus, yang bernilai jutaan itu baru dikatakan sukses bila sudah berhasil buang angin.







0 komentar:
Posting Komentar